Sosmed:

Saturday, 9 January 2016

Siapakah yang Lemah dan Cerdas Sebenarnya?



SAUDARAKU,
Menemukan artian sejati tentang penyifatan cerdas dan lemah membutuhkan landasan berpikir. Bagi kita, seorang muslim, landasan terbaik itu adalah Al-Qur’an dan Hadits. Kedua inilah yang utama. Bila dari keduanya tidak ditemukan jawaban yang jelas, maka kita dibenarkan menggunakan logika yang suci.
Kali ini, mari menelisiki makna dari satu hadits Nabi berikut ini.
Rasulullah bersabda, “Orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengevaluasi dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah matinya. Orang yang lemah adalah orang yang membiarkan dirinya memperturutkan hawa nafsu dan mengangan-angankan banyak hal kepada Allah.” (HR At-altirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)
Saudaraku,
Mari kita berbincang satu per satu. Pertama, tentang kecerdasan. Setelah membaca hadits ini dengan cermat, bisalah kita memahami sekarang bahwa kecerdasan itu ukurannya tak lagi soal angka hasil test IQ atau kemampuan seseorang membangun pundi-pundi kejayaan; materi, pangkat, dan apresiasi banyak orang.
Kecerdasan itu terlihat dari cara seseorang mempergunakan akalnya. Kita kenal banyak orang cerdas, namun akhirnya hidupnya terhabiskan di dalam buli hotel prodeo. Kenapa? Mereka menggunakan akal sebatas untuk memenangkan nafsu dan ego semata.
Maka, seharusnya yang kita lakukan adalah terus mengasahkan kemampuan intelijensia kita, kemudian mengarahkannya pada jalan yang lurus.
Sebagaimana kata Rasulullah, hendaknya dengan akal yang sehat kita bisa mengevaluasi diri secara berkesinambungan. Apa yang kurang? Apalagi yang belum kita lakukan? Dosa mana lagi yang belum bisa kita tinggalkan. Mudah-mudahan, dengan membiasakan pembersihan diri, kita bisa memasuki tahap kedua. Yaitu beramal untuk kehidupan setelah mati.
Saudaraku,
Ya, orang cerdas bukanlah semata mengetahui kebenaran namun tidak mengikutinya. Justru, ketika ada sinergi antara tahu dan mau sajalah kecerdasan menjadi utuh.
Apa itu amal-amal untuk kehidupan setelah kematian? Tentu, ajaran agama kita menuntunkan ibadah, tujuan dari kesemua ibadah itu adalah untuk kehidupan setelah mati. Kehidupan akhirat.
Kedua, siapakah yang lemah? Ternyata jawabannya bukanlah orang yang fisiknya tidak sempurna. Ternyata jawabannya bukanlah orang yang otaknya lemot bin lamban. Ternyata jawabannya bukanlah orang yang pendidikannya rendah.
Tapi apa? Tapi orang yang mengikuti hawa nafsuanya tanpa pertimbangan akal sehat. Tapi orang yang banyak berangan-angan pada Allah tanpa usaha untuk menggapainya. Hanya merindukan, tak pernah mengusahakan. Hanya merindukan, enggan tuk mendapatkan.
Saudaraku,
Begitu banyak dosa yang diperbuat dengan kebodohan. Tahu tapi tak rela meninggalkan. Tahu bahaya, tapi enggan beranjak. Bodoh. Mudah-mudahan, Allah mampukan kita dalam hidup ini.
Memohonkan kehidupan dunia dan akhirat memang tempatnya adalah pada Allah. Namun, bukan berarti dengan mengangankan saja semua itu akan didapati. Kita diharuskan untuk berikhtiar menggapainya. Allah memang Maha Pemurah, tapi Allah ingin dekat pada hamba-Nya yang mendekat pada-Nya. [Mhd Rois Almaududy]
Sumber:islampos

0 komentar:

Post a comment